TANGGAPAN HUKUMAN MATI (DAOED JOESOEF)
Saya
sangat setuju dengan artikel Daoed Joesof yang menyatakan bahwa hukuman mati
itu akan membuat jera para pelaku kriminal tetapi pantaskah hal kehidupan itu
dihilangkan oleh manusia itu sendiri. Apakah semua orang pantas bertobat untuk
menghentikan seperti kelakuannya pada masa ia melakukan kesalahan? Suatu hikmat
dan pengetahuan dapat ada karena pengalaman hidup, baik itu jahat maupun baik
yang kita lihat bersama. Mari kita lihat beberapa pelanggaran hukum yang
berpengalaman bukankah mereka mengetahui detail dan celah untuk mengetahui
perbuatan yang tidak terjerat dengan pelanggarannya. Apakah mereka yang
melakukan kesalahan dan akhirnya menyesal yang kemudian memberi informasi yang
baik dan bermanfaat untuk menumpas kejahatan, dihilangkan atau ditiadakan
begitu saja? Mari berpikir penyertaan
Tuhan. Apakah Tuhan kita menginginkan kematian? Bukankah sebuah pertobatan? Apakah
penulis artikel ini sudah lebih human dibandingkan mereka yang melakukan
perintah Tuhan? Sudahkah pemerintah kita menghumankan masyarakatnya? Ayolah
berpikir lebih jauh lagi akibat dari pembunuhan berencana yang dilakukan oleh
negara ini.
Pernyataan Jhon F. Kennedy yaitu, “ask not what your country can do for
you ask what you can do for your country”. Di negara AS ini adalah pantas
dikemukakan karena mereka lebih banyak adalah orang-orang yang berpengalaman
dan bependidikan. Pernyataan ini
tidaklah cocok untuk Indonesia, bukan masyarakat Indonesia tidak mampu,
tetapi kenalilah warga negara Indonesia itu sendiri, apakah sebagian besar
sudah tahu apa yang harus mereka kerjakan. “Ask what you can do for this
country and describe what can they doing for country.” Sudah jelas mereka tahu apa yang harus diperbuat dan
dilakukan!
Penulis artikel juga mengatakan bahwa pemakai narkoba adalah “mayat
hidup”, coba anda sendiri yang merasakan kemalangan tetapi medengar hal-hal
demikian dari orang lain, bukankah itu sangat menyakitkan. Apakah mereka tidak
punya keinginan umtuk berhenti melakukannya dan mendapat dukungan masyarakat
terutama keluarga, tetapi mencapnya dengan kata-kata yang sangat sensitif yaitu “mayat hidup.” Tidak adakah bandar
narkoba yan menyesal akan perbuatannya kemudian menyesal, tetapi masyarakat
sudah terlanjur membencinya.
Yohanes 10 : 10
Pencuri datang hanya untuk mencuri,
membunuh, dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan
mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Artinya bahwa Tuhan ada bukan untuk mencuri hak hidup orang lain,
membunuh tubuh oranglain, dan membinasakan tubuh. Tuhan ada karena manusia itu
punya harapan untuk menjadi lebih baik kedepannya sebaliknya demikinlah yang
dilakukan si iblis. Kita semua tahu sejahat apapun manusia pasti ada
setitik kebaikan dihatinya keinginannya
redup karena kebimbangan hidup. Disinilah peran serta agama diperlukan dan
humanity diperlukan untuk menyadarkan orang lain.
Penulis juga
menyatakan “iblis yang dibutuhkan,” dari segi mana iblis tersebut baik bukankah
iblis adalah pembunuh manusia sejak pertama kali. Penulis artikel ini sudah
terkena dusta iblis dengan iming-iming pelaku kejahatan dan antek-anteknya akan
jera. Penulis mungkin bepikir secara logika dan menggunakan hasil pengalaman
yang luar biasa hebat, tetapi perlu anda ingat Hukum Adat saja yang menjadi
ideologi dan fiilsafat negara tidak pernah menghalalkan Hukuman Mati, jadi
hukum apakah yang kita pakai untuk mencabut nyawa orang itu sendiri dan
sia-sialah kebaikan yang diajarkan oleh orangtua dan guru yang telah
diberikannya sejak kita kanak-kanak sampai sekarang. Seperti pernyataan Andre Sidabutar,“Marah
adalah wajar, tetapi kita juga barus bijaksana menyimpan yang baik dan tidak
baik yang membuat kita berpikir bahwa
kejahatan dan kebusukan yang terjadi kedepannya.” Bukankah keluarga anda
mencintai anda sebaliknya merek

Tidak ada komentar:
Posting Komentar